MY SMALL TIPS

Pernah ngerasa bosan ketika ngafal Qur’an? Atau ngerasa jengkel karena  nggak bisa hafal-hafal, meski sudah seringkali diulang banyak kali. Ini ada beberapa tips dari saya ketika rasa bosan mulai melanda, Yaitu tinggalkan sebentar kegiatan menghafal. Kemudian balik lagi menghafalkan Qur’an.  Sepengalaman saya, ketika kita balik menghafal yang kedua kali, maka akan terasa lebih mudah.

Untuk sementara waktu, kita bisa hentikan dulu. Ibarat mencuci baju rasa bosan itu adalah noda yang membandel. Di ucek-ucek sampai capek tetep aja nggak ilang-ilang. Nah yang perlu kita lakukan, kita hentikan dulu nguceknya. Baju itu perlu didiamkan sebentar, kita perlu merendamnya. Menghafal Qur'an juga begitu, kita hentikan dulu sebentar kegiatan menghafalnya. Biar rasa bosannya itu luntur dulu. Meski kita menghentikan kegiatan menghafalnya tapi usahakan untuk  tidak menghentikan interaksi kita sama Qur’an.  Maka di sela-sela masa jeda tersebut bisa kita isi dengan beberapa hal berikut.

❶Dengerin murotal Favorit kita.
Coba keluar rumah. Bisa ke taman atau sawah. Atau di tempat yang banyak pohonnya. Lalu dengerin murotal. Dengerin murotal dengan saksamana.  Bisa murotal apa aja, nggak harus surat yang saat itu kita hafal. Lalu dengerin dengan khidmat.  Nggak usah di ingat-ingat, atau berusaha untuk ngafal. dinikmatin aja. Hal kayak gini juga cukup ampuh menghilangkan rasa bosan.


Sohib aku ada yang suka sekali ama Fatih seferagic. Dia asal Amerika. Suaranya Assoy. Masih muda, kelahiran tahun 95. Wajahnya ganteng ala-ala bule gitu. Sayangnya udah kawin. :D


 Kalau di Indonesia, sekarang ini juga lagi ngehit-ngehitnya Muzammil Hasballah.  Dia lulusan ITB.  Selain suaranya merdu, bacaannya bikin saya merinding.  Dia bisa membuat bacaan Qur'an bisa terdengar begitu khidmat.  Teman karib aku juga lagi suka mantengin instagramnya. Muzamil ini juga suka ngupload foto-foto yang bagus. Mungkin karena dia anak arsitektur kali ya, jadi visualnya bagus. Selain itu instagramnya juga suka upload foto yang berisikan AL Qur’an. Sohib aku  yang nge-fans sama dia, pernah cerita ke aku soal Muzammil. Katanya dia orang yang bisa memanfaatkan ketenarannya dengan membagikan hal yang bermanfaat. Ketika tahu suara emasnya telah mampu menarik perhatian publik, maka ia manfaatkan kesempatan itu dengan baik. Ia isi Instagramnya dengan konten-konten yang baik.

Btw  saya jadi ingat dengan Ust Solihun ketika ngajar di kelas Taskif. Ketika itu beliau nanya. Kalian tahu syaikh A, B, C, D..?” Kata ustadnya
Ketika Ustadz nanya begituan kita hening, kita nggak tahu siapa tuh orang-orang yang dimaksud.

eh ternyata orang-orang yang disebutkan ustadz tadi adalah para Qor’i. Lalu Ustadz nanya ke kita, “Kalian ini tahunya siapa?”

Saya otomatis menjawab, “Whitney Huston, Ed Sheran, Adele, Demi Lovato, Ariana Grande, haha...“  Tapi saya njawabnya dalam hati. Nggak beranilah. Nanti bisa turun mesin :D  Ternyata banyak para Qor’i yang suaranya enak yang belum kita ketahui. Ada yang bacanya lambat mendayu. Ada yang ritmenya cepat. Tergantung selera. Kalau saya suka bacaannya sa’ad Al Ghamidi.


❷Jadi Walking blogger.

 Usahakan yang di stalking  itu yang masih berkaitan dengan Qur’an. Atau yang islami. Selain blog bisa juga tumblr atau instagram. Biasanya media-media tersebut punya poto-poto, atau menyajikan suguhan visual yang menyegarkan mata. Ini beberapa yang saya simpen:




Source: pinterest.com


Source: pinterest.com
Islamic-quote.com



❸Nonton youtube/video yang membahas tentang Qur’an.
Ini salah satu video yang jadi Favorit saya:
“Qur’an weekly “dan “Get to know" Atau bagi yang suka animasi, komik atau gambar-gambar  saya sarankan buat buka Ilustrasi Nouman Ali. Bisa di search di youtube dengan key word  lustrasi Nouman Ali khan.  Alhamdulillah vidionya sudah lumayan banyak yang di transletkan oleh tim Nouman Ali khan Indonesia. That’s my Favorit chanel in Youtube. Karena Durasinya pendek. Antara 5-10 menit doang. Meski begitu video tersebut bisa membahas konten Qur’an dengan efektif. Kalau Qur’an Weekly, lebih menjelaskan konten AL Qur’an yang sesuai dengan life style kita di zaman sekarang. Meliputi sikap kita, adab kita dan hal-hal lain yang kontemporer. Kalau How get to know, membahas satu surat secara garis besarnya. Misal membahas tentang latar belakang kenapa ayat itu diturunkan. Sedangkan ilustrasi Nouman Ali Khan diambil dari potongan ceramah yang dianggap paling menarik. Lalu dibuat animasinya.

❹Baca tafsir.
 Ada surat-surat yang punya cerita seru, dibalik latar belakang turunya surat. Seperti Surat AL Buruj. Ternyata  punya history yang sangat  seru. Surat AL Buruj adalah perjuangan seorang bocah melawan kelaliman raja. Ceritanya lebih heroik daripada kisah Harry Potter ngelawan Voldemort. Dan Ending cerita surat AL Buruj lebih sedih daripada ceritanya film endless love.


❺Nulis di sosmed. Tulis sesuatu yang bekaitan tentang Qur’an. Entah bikin Quote dari Qur’an, entah nulis kajian tafsir yang membuat kita tersentuh. Atau menulis pengalaman kita tentang Qur’an. Men-non aktifkan mulut yang capek, lalu beraalih ngaktivin jari juga lumayan bisa merefresing. Selain untuk ajang refresing, kita juga sedang membagikan ilmu jairiyah.




Nah, inilah beberapa tips yang saya rangkum ketika rasa bosan melanda. Yaitu: 





Nah itulah beberapa Tips dari saya dalam melawan si Bosen.  Saran saya tetap ISI DENGAN KEGIATAN YANG MASIH BERKAITAN DENGAN Qur’an. Agar keberkahan Qur’an tetap mengalir.

 Sebenarnya masih ada banyak cara. Terserah kalian mau pakai cara yang mana. Mau salto, rol depan, atau senam aerobiuk juga boleh.  Terserahlah….,
 Asal jangan menyerah :D 


Terkadang untuk mengatasi rasa menyerah, kita hanya perlu mengambil jeda sejenak. Lalu kembali Fighting lagi :D

SABAR DALAM BERPROSES



Ketika menghafal Qur’an  kesetiaan kita itu benar-benar di uji.  Ketika dikoreksi, selalu ada saja bacaan yang salah. Kemarin  huruf "ha" saya selalu kepanjangan. Eh giliran huruf "Ha" nya udah bener sekarang ganti huruf na yang kepanjangan. Terkadang secara tidak sadar bunyi hafalan kita bergeser. Misalnya muslimin eh kita ngafalnya jadi muslimun.  Mungkin itu sebabnya kenapa kita dituntut untuk rajin menyetorkan bacaan, baik yang sudah dihafal maupun yang sedang dihafal

Selain harus dituntut gigih untuk membetulkan bacaan yang salah. Kita juga dituntut gigih pada masa adaptasi,  saat kita memutuskan untuk menghafal Qur’an. Menurut saya inilah masa yang paling berat. Tapi saran saya, lakoni saja. Tetaplah berinteraksi dengan Qur’an dibawah bimbingan Ustadzah. Karena apabila kita sudah menemukan ritme kita dengan Qur’an, jadi akan terasa lebih ringan.

Akhir-akhir ini saya baru menemukan beberapa ritme setelah bertahun-tahun lamanya. Lama ya? Nggak tahu kalau yang lain, kalau saya begitu.  Salah satu ritme yang baru saya temukan adalah cara menghafal ayat yang super panjang. Kalau pas dulu ketika nemu  ayat yang super panjang, saya akan berusaha menghafal setengah ayat atau menghafalkannya secara utuh. Misal dalam ayat tersebut ada 12 kata, maka saya berusaha membacanya 6 kata atau 12 kata sekaligus. Ini bikin kepala berat, karena bagi saya menghafal 6 kata asing yang baru bukanlah hal mudah. Sekarang saya baru menemukan formulanya. Ternyata lebih enak kalau kita hafalkan satu kata dulu lalu diulang sampai 5 kali. Lalu nambah satu kata lagi dan diulang lima kali.

Contohnya Saya ambil  Qs Al Baqarah 225:


Daripada menghafal setengah dari seluruh ayat, akan lebih enak apabila dihafalkan dulu perkata.
Layukahidukumullah: diulangi 5-10 kali
Bi lagwifi: Diulangi 5-10 kali.
Kemudian dua kata tadi digabung: Layukahidukumullah Bi lagwifi diulang sampai 10 kali.
Nah begitu terus. Lebih asyik kalau kita sambil lihat terjemah perkata, jadi kita tahu kosa katanya. Dan ini akan membuat kita tahu kontennya.  Emang lebih lama, tapi kita bisa enjoy, kepala ga jadi begitu berat. Mengulangnya jadi emang lebih banyak, tapi bukankah disana terdapat pahala sabarnya?


Penemuan saya yang kedua. Dulu saya  gak bakal beranjak menghafal kalau belum bisa melafalkan hafalan satu halaman  secara  mulus. Jika dalam sekali baca masih ada satu beberapa kata yang lupa  maka saya nggak mau nambah hafalan. Setelah kesini saya baru sadar, ternyata cara saya itu salah. Kalau masih salah dan lupa ya ndak papa diulang terus dan ga harus lancar saat itu juga. Coba besoknya dibuka, ternyata lebih lancar jaya. Pokoknya jangan terburu-buru.

Btw mengenai hal ini  saya pernah ada pengalaman yang berkesan . Saat itu saya diajar tahfidz oleh mbak Seruni (bukan nama sebenarnya) . Mbak Seruni menyimak hafalan saya. Kemudian Mbak Seruni bilang, “Dek, kok salah-salah ya. Kenapa dek? Terburu-buru ya?” Kemudian Mbak Seruni Bilang, “Jangan terburu-buru dek, kalau adek sudah berniat menghafal meski adek belum hafal akan dicatat Allah sebagai penghafal Qur’an”

Kalimat mbak seruni begitu membekas dalam diri saya. Kemudian saya jadi kepikiran dengan mbah-mbah yang sudah berusia lanjut tapi masih Belajar baca Qur’an. Saya jadi ingat dengan Mbah Tjeplis yang baru  belajar Iqro’ empat di umur yang ke-74. Juga bu Syamsiah yang baru belajar tahsin di umur yang ke 74. Kawan saya sehalaqoh yang bernama Bu Bani juga masih semangat merampungkan hafalan juz ke-14 di usia 69 tahun. Sempat saya berpikir kurang ajar, apa pernahkah mereka terpikir dengan usia yang sesepuh itu mereka sanggup merampungkan hafalan Qur’annya? Bagaimana kalau sebelum hafalan itu rampung tapi beliau udah mati duluan? Saya bertanya-tantya lalu apa yang membuat mereka tetap semangat?

Perkataan Mbak Seruni seolah-olah menjadi palu godam yang mengingatkan diri, Bahwasannya Allah tidak menilai sesuatu dari hasilnya, namun Allah menilai dari  niat dan ikhtiar kita. Saya jadi teringat dengan kajianTafsir surat AL fatihah. Pada ayat “Ihdinas sirotol mustaqim” Tunjukkan jalan yg lurus. Sirot berarti adalah jalan yang sgt panjang. Kata yg dipakai adalah 'jalan' bukan 'destinasi'. Allah tdk menilai kita dari keberhasilan kita, atau apakah kita sudah meraih tempat yg kita tuju. Tapi Allah melihat pergerakan kita. Meski itu adalah pergerakan yang sangat kecil.

Sebagaimana yang diajrkan oleh  Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadist beliau bersabda : “Barang siapa yang berdoa kepada Allah dengan benar untuk mendapatkan mati syahid, maka Allah akan memberikan kedudukannya seperti para syuhada walaupun dia mati di atas tempat tidur”. (H.R. Muslim)

Hadist itu menunjukkan betapa azam itu sangat dihargai oleh Allah. Jadi Kawan bercita-citalah besar. Karena bercita-cita besar adalah sesuatu yang baik. Kita akan dicatat telah mencapainya, selama azam itu ada. Bagi kita yang menyimpan cita-cita besar, juga jangan berkecil hati. tetap peliharalah cita-cita besar kita meski yg hanya bisa kita lakukan saat ini hanyalah pada sebatas ikhtiar-ikhtiar kecil, tidak apa-apa, terus istiqomah saja.
Ketika kita punya cita-cita  menghafal Qur’an 30 juz, pelihara saja terus azam itu. Meski yg bisa kita lakukan sekarang ini masih dlm tahap belajar membetulkan bacaan Qur’an atau masih belajar Iqro’, Tidak apa-apa tetap rajin saja berangkat ke Halaqah Qur’an.

Saya rasa ini juga berlaku untuk cita-cita besar kita lainnya.
Jika saat ini kita memiliki keinginan berhaji, Peliharalah azam untuk pergi haji, meski yg bisa kita lakukan hari ini hanyalah menabung Rp 10.000 tiap harinya. Tidak apa-apa, teruskan saja proses menabungnya.


Jika saat ini kau punya cita-cita mempunyai perpustakaan, Peliharalah azam membuat perpustakaan, meski yg bisa kita lakukan sekarang ini hanya menyumbang buku yg telah kita baca. Tidak apa-apa lakukan saja terus.

Jadi kawan peliharalah selalu cita-cita besarmu, walau sepertinya nampak mustahil, meski terkadang ditertawakan org. Tidak apa-apa, jangan berkecil hati. Peliharalah saja terus. Sungguh indah apa yang dikatakan, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. "Jalan Allah ini panjang sekali. Untungnya, kita tidak dituntut untuk sampai ke ujung. Kita hanya diwajibkan mati diatasnya".


Tidak usah terburu-buru, tidak usah merasa terbebani, tidak usah merasa berkecil hati. Karena sesungguhnya kita tidak pernah dituntut akan hasil, kita hanya perlu mengkoreksi niat dan ikhtiar yang kita tempuh. Mahas Suci Allah dengan segala kebijaksanaan-Nya{}