SABAR DALAM BERPROSES



Ketika menghafal Qur’an  kesetiaan kita itu benar-benar di uji.  Ketika dikoreksi, selalu ada saja bacaan yang salah. Kemarin  huruf "ha" saya selalu kepanjangan. Ehgiliran huruf "Ha" nya udah bener sekarang ganti huruf na yang kepanjangan. Terkadang secara tidak sadar bunyi hafalan kita bergeser. Misalnya muslimin eh kita ngafalnya jadi muslimun.  Mungkin itu sebabnya kenapa kita dituntut untuk rajin menyetorkan bacaan, baik yang sudah dihafal maupun yang sedang dihafal

Selain harus dituntut gigih untuk membetulkan bacaan yang salah. Kita juga dituntut gigih pada masa adaptasi,  saat kita memutuskan untuk menghafal Qur’an. Menurut saya inilah masa yang paling berat. Tapi saran saya, lakoni saja. Tetaplah berinteraksi dengan Qur’an dibawah bimbingan Ustadzah. Karena apabila kita sudah menemukan ritme kita dengan Qur’an, jadi akan terasa lebih ringan.

Akhir-akhir ini saya baru menemukan beberapa ritme setelah bertahun-tahun lamanya. Lama ya? Nggak tahu kalau yang lain, kalau saya begitu.  Salah satu ritme yang baru saya temukan adalah cara menghafal ayat yang super panjang. Kalau pas dulu ketika nemu  ayat yang super panjang, saya akan berusaha menghafal setengah ayat atau menghafalkannya secara utuh. Misal dalam ayat tersebut ada 12 kata, maka saya berusaha membacanya 6 kata atau 12 kata sekaligus. Ini bikin kepala berat, karena bagi saya menghafal 6 kata asing yang baru bukanlah hal mudah. Sekarang saya baru menemukan formulanya. Ternyata lebih enak kalau kita hafalkan satu kata dulu lalu diulang sampai 5 kali. Lalu nambah satu kata lagi dan diulang lima kali.

Contohnya Saya ambil  Qs Al Baqarah 225:


Daripada menghafal setengah dari seluruh ayat, akan lebih enak apabila dihafalkan dulu perkata.
Layukahidukumullah: diulangi 5-10 kali
Bi lagwifi: Diulangi 5-10 kali.
Kemudian dua kata tadi digabung: Layukahidukumullah Bi lagwifi diulang sampai 10 kali.
Nah begitu terus. Lebih asyik kalau kita sambil lihat terjemah perkata, jadi kita tahu kosa katanya. Dan ini akan membuat kita tahu kontennya.  Emang lebih lama, tapi kita bisa enjoy, kepala ga jadi begitu berat. Mengulangnya jadi emang lebih banyak, tapi bukankah disana terdapat pahala sabarnya?


Penemuan saya yang kedua. Dulu saya  gak bakal beranjak menghafal kalau belum bisa melafalkan hafalan satu halaman  secara  mulus. Jika dalam sekali baca masih ada satu beberapa kata yang lupa  maka saya nggak mau nambah hafalan. Setelah kesini saya baru sadar, ternyata cara saya itu salah. Kalau masih salah dan lupa ya ndak papa diulang terus dan ga harus lancar saat itu juga. Coba besoknya dibuka, ternyata lebih lancar jaya. Pokoknya jangan terburu-buru.

Btw mengenai hal ini  saya pernah ada pengalaman yang berkesan . Saat itu saya diajar tahfidz oleh mbak Seruni (bukan nama sebenarnya) . Mbak Seruni menyimak hafalan saya. Kemudian Mbak Seruni bilang, “Dek, kok salah-salah ya. Kenapa dek? Terburu-buru ya?” Kemudian Mbak Seruni Bilang, “Jangan terburu-buru dek, kalau adek sudah berniat menghafal meski adek belum hafal akan dicatat Allah sebagai penghafal Qur’an”

Kalimat mbak seruni begitu membekas dalam diri saya. Kemudian saya jadi kepikiran dengan mbah-mbah yang sudah berusia lanjut tapi masih Belajar baca Qur’an. Saya jadi ingat dengan Mbah Tjeplis yang baru  belajar Iqro’ empat di umur yang ke-74. Juga bu Syamsiah yang baru belajar tahsin di umur yang ke 74. Kawan saya sehalaqoh yang bernama Bu Bani juga masih semangat merampungkan hafalan juz ke-14 di usia 69 tahun. Sempat saya berpikir kurang ajar, apa pernahkah mereka terpikir dengan usia yang sesepuh itu mereka sanggup merampungkan hafalan Qur’annya? Bagaimana kalau sebelum hafalan itu rampung tapi beliau didahului oleh mau yang menjemput. Lalu apa yang membuat mereka tetap semangat?

Perkataan Mbak Seruni seolah-olah menjadi palu godam yang mengingatkan diri, Bahwasannya Allah tidak menilai sesuatu dari hasilnya, namun Allah menilai dari  niat dan ikhtiar kita. Saya jadi teringat dengan kajianTafsir surat AL fatihah. Pada ayat “Ihdinas sirotol mustaqim” Tunjukkan jalan yg lurus. Sirot berarti adalah jalan yang sgt panjang. Kata yg dipakai adalah 'jalan' bukan 'destinasi'. Allah tdk menilai kita dari keberhasilan kita, atau apakah kita sudah meraih tempat yg kita tuju. Tapi Allah melihat pergerakan kita. Meski itu adalah pergerakan yang sangat kecil.

Sebagaimana yang diajrkan oleh  Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadist beliau bersabda : “Barang siapa yang berdoa kepada Allah dengan benar untuk mendapatkan mati syahid, maka Allah akan memberikan kedudukannya seperti para syuhada walaupun dia mati di atas tempat tidur”. (H.R. Muslim)

Hadist itu menunjukkan betapa azam itu sangat dihargai oleh Allah. Jadi Kawan bercita-citalah besar. Karena bercita-cita besar adalah sesuatu yang baik. Kita akan dicatat telah mencapainya, selama azam itu ada. Bagi kita yang menyimpan cita-cita besar, juga jangan berkecil hati. tetap peliharalah cita-cita besar kita meski yg hanya bisa kita lakukan saat ini hanyalah pada sebatas ikhtiar-ikhtiar kecil, tidak apa-apa, terus istiqomah saja.
Ketika kita punya cita-cita  menghafal Qur’an 30 juz, pelihara saja terus azam itu. Meski yg bisa kita lakukan sekarang ini masih dlm tahap belajar membetulkan bacaan Qur’an atau masih belajar Iqro’, Tidak apa-apa tetap rajin saja berangkat ke Halaqah Qur’an.

Saya rasa ini juga berlaku untuk cita-cita besar kita lainnya.
Jika saat ini kita memiliki keinginan berhaji, Peliharalah azam untuk pergi haji, meski yg bisa kita lakukan hari ini hanyalah menabung Rp 10.000 tiap harinya. Tidak apa-apa, teruskan saja proses menabungnya.


Jika saat ini kau punya cita-cita mempunyai perpustakaan, Peliharalah azam membuat perpustakaan, meski yg bisa kita lakukan sekarang ini hanya menyumbang buku yg telah kita baca. Tidak apa-apa lakukan saja terus.

Jadi kawan peliharalah selalu cita-cita besarmu, walau sepertinya nampak mustahil, meski terkadang ditertawakan org. Tidak apa-apa, jangan berkecil hati. Peliharalah saja terus. Sungguh indah apa yang dikatakan, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. "Jalan Allah ini panjang sekali. Untungnya, kita tidak dituntut untuk sampai ke ujung. Kita hanya diwajibkan mati diatasnya".


Tidak usah terburu-buru, tidak usah merasa terbebani, tidak usah merasa berkecil hati. Karena sesungguhnya kita tidak pernah dituntut akan hasil, kita hanya perlu mengkoreksi niat dan ikhtiar yang kita tempuh. Mahas Suci Allah dengan segala kebijaksanaan-Nya{}

AGAR TAK RENTA DIMAKAN USIA



Salah satu momen yang bikin penasaran di halaqah Qur'an adalah pembentukan kelompok baru. Setelah kita menjalankan program tahfid dalam suatu periode, maka akan diacak ulang dan dibentuk kelompok baru. Offcourse kita akan berganti dengan teman-teman yang baru.  Saat itu  saya agak penasaran sama satu orang anggota di kelompokku. Namanya bu Albani, -nama asli bukan samaran- Beliau ini sudah sepuh. Usianya menuju 70 tahun. Tapi semangatnya untuk menghafal Al Qur’an selalu on fire. 

By the way setelah kelompok baru ini berjalan, kita semakin mengenal masing-masing anggota antara satu dengan yang lainnya. Kita juga jadi tahu Bu Albani lebih banyak lagi. Selain belajar dengan mbak Asoka  di kelompok tahfidzku beliau juga belajar menghafal Qur'an  dengan Ust. Sholihuddin MA. Al hafidz. Walaupun beliau ini peserta yang paling tua, ternyata beliau ini yang hafalannya paling banyak di kelompok tahfidku. Hafalannya menuju 13 juz lebih. Meski usianya sudah lanjut, tapi Bu Albani tetap aktif dengan seabrek kesibukannya. Selain menghafal Qur’an, beliau ini juga masih menjabat sebagai pengurus berbagai majelis taklim. Oh ya satu hal lagi yang membuat saya terkesima dengan bu Albani. Ternyata beliau ini juga masih belajar bahasa arab. Padahal bahasa arab itu nggak bisa main-main, perlu fokus, termasuk harus tahan dalam menghafalkan banyak materi. Soalnya saya dulu pernah ikut belajar bahasa arab, tapi nggak tahan lama. Ini yang membuat saya salud dengan semangat Bu Albani.

Saya sempat nanya, bagaimana cara beliau menghafal Alqur’an dengan kesibukan yang seperti itu. Pada siang hari Bu Bani ini sibuk dengan aktivitasnya, jadi Bu Albani menghafal Qur’an pada malam hari.  Jam 9 beliau tidur, Lalu tengah malam menghafal dan di lanjutkan tahajud. Setiap malamnya beliau biasa menghabiskan waktu 3-4 jam untuk menghafal Qur’an.





(foto Bu Albani, 69 tahun,  domisili di Kota Yogyakarta)


Selain Bu Bani, saya ingin menceritakan dua nenek lagi. Mereka adalah para mbah-mbah sepuh yang masih semangat belajar Alqur’an. Bahkan keduanya ini sudah punya cicit.  Beliau adalah Bu Syamsiah dan Bu Tjeplis –nama yang sebenarnya-. Keduanya lahir pada tahun 1942, saat Indonesia belum merdeka man. Usia mereka sekarang sekitar 74 tahun.


Bu Syamsiah baru belajar tahsin sekitar setahun yang lalu. Beliau belajar dengan ustadzah Aminah. Metode belajarnya, Bu Syamsiah langsung membaca Qur’an lalu bila salah langsung dibenarkan oleh Ustadzah Aminah bagaimana cara membaca yang benar, di dengungkan, di samarkan atau dibaca dengan jelas. Tidak seperti kita yang menghafalkan nama hukum tajwid.”Kasihan kalau harus menghafalkan kaidah tajwidnya” Begitu kata Mbak Ningrum, putri bungsu dari Bu Syamsiyah.

Saya pribadi pernah bertemu dengan Ustadzah Aminah. Saya katakan padanya, “Saya shalud dengan para lansia yang masih semangat menghafal Alqur’an”

Diluar dugaan saya, Bu Aminah ini malah menjawab, “Ya harusnya memang seperti itu, ketika kita semakin menua, harusnya interaksi kita dengan Qur’an di pererat lagi” Begitu kata Bu Aminah, wah betul juga.

Pada suatu hari ketika saya sowan ke rumah Bu Syamsiah. Saya melihat Bu Syamsiah solat, disampingnya ada mushaf Alqur’an yang besar sekali. Jadi Bu Syamsiah solat sambil membaca Qur’an. Agar panjang pendeknya sesuai. Tahukah kawan surat apakah yang dibuka saat itu? Surat Al Falaq dan Annas, keduanya adalah surat yang sudah sangat melekat di ingatan Bu Syamsiah. Beliau membuka mushaf hanya untuk memastikan panjang pendeknya benar ketika dibaca dalam bacaan solat.  “Panjang pendek Annas dan Al falaq saya masih sering keliru” Tutur Bu Syamsiah. Semangat belajar dari nol inilah yang saya acungin jempol. Yaitu keseriusannya belajar tahsin di usianya yang ke-74,

 Bu Syamsiah juga pernah curhat ke saya, “Dulu waktu saya masih muda saya nggak belajar, giliran tua tinggal nyeselnya saja” Agak merinding ketika Bu Syamsiah bilang seperti itu pada saya, membuat saya jadi takut. Saya takut kalau nanti pas tua juga nyesel.

(Foto Bu Syamsiyah, 74 tahun, domisili di Magetan, Jawa Timur)


Sekarang mari kita menuju Bu Tjeplis. Berbeda dengan Bu Bani dan Bu Syamsiyah yang sudah bisa membaca Alqur’an. Bu Bani sudah pada tahap tahfid, Bu Syamsiah sudah pada tahap tahsin. Sedangkan Bu Tjeplis ini masih belum bisa baca Qur’an. Bu Tjeplis masih tahap belajar membaca Iqro’. Sekarang ini Bu Tjeplis sudah Iqro 4. “kesulitan mengajari nenek itu, nenek sering lupa hurufnya” Begitu kata Ronal, cucu asuh yang mengajari nenek Tjeplis membaca Iqra.

“Umurku wis sakmene, tapi kok agek iso moco Iqro. Urung iso moco Alqur’an. Yo wis ben yo. Sing penting aku solat karo dongakne Anak putu kabeh” Kata Bu Tjeplis dalam bahasa jawa. Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, seperti ini kira-kira.., “Umurku sudah tua begini, tapi belum bisa baca Alqur’an. Baru Iqro . Ya udah lah ndak papa, yang penting aku solat dan doakan anak cucu” Bu Tjeplis ini memang seringnya memakai bahasa jawa tradisional dan memakai kebaya. Beliau tinggal di desa kecil di Purworejo. Jika kita bertemu beliau  kesan polos dan apa adanyalah yang akan  langsung kita tangkap.

(Foto Bu Tjeplis, 74 tahun, Purworejo, Jawa Tengah)



Menarik juga mengamati para lansia yang semangat belajar Al-Qur’an.  Karena disisi lain saya juga mengamati banyak lansia yang kerjaannya diem dirumah & tidak punya kesibukan. Sejujurnya saya pernah menghawatirkan masa tua saya nanti.  Kekhawatiran itu muncul dari pengamatan orang-orang di sekeliling saya. Banyak nenek-nenek menjadi pikun. Diantara mereka ada yang sering membuat ulah, sehingga sering dimarahi anak cucunya.  Ada pula nenek-nenek yang sehariannya diem aja duduk-duduk di depan teras rumah seharian, doing nothing. Hal ini membuat saya bertanya-tanya,  gimana ya, masa tua saya nanti? Apa saya nanti seperti nenek di samping rumah yang pikun, yang sering dimarahi ama cucunya. Yang sering bikin repot orang? Atau nenek-nenek yang kerjaannya diem duduk di teras rumah aja?

Pertemuan saya dengan ketiga nenek tadi, cukup menginspirasi saya. Bahwasannya juga masih banyak sosok-sosok lansia yang menjaga sebuah aktivitas dan produktivitas. Sebagaimana Bu Albani, Bu syamsiyah atau Bu Tjeplis yang mengisi masa tua mereka dengan semangat belajar Al Qur'an. Ternyata
nggak semua lansia itu merepotkan bukan? EH saya jadi ingat dengan tayangan kick Andy yang membahas tema yang serupa. Judulnya Biar Tua Tetap Eksis. Dua tokoh yang dihadirkan saat itu dalah Bapak Drs. Darto Danu Sobroto, S.H  dan Ibu DR. BRA. Mooryati Soedibyo,

Kalau kita melihat sosok Pak Darto, kita tidak menyangka umur beliau sudah 80 tahun. Badannya masih terlihat sangat muda &
bugar. Di usianya yang sudah lansia,  beliau dipercaya menjadi penasihat presiden, sebuah jabatan yang prestisius dan memerlukan kemampuan yang lebih. Kegiatan Pak Darto sehari-hari masuk kantor jam 10 pagi dan selesai jam 4 sore. Seusai dari kantor  beliau tidak bisa langsung beristirahat dirumah, setelah pulang kantor selalu ada saja yang mencegat untuk mengajak ketemuan.

Pak Darto saat itu ditanya oleh Bang Andy, “Pak Darto di usia yang 80 tahun ini kalau ditanya apa yang membuat anda terlihat muda, aktif dan produktif?”
Pak Darto menjawab dengan singkat, “keep moving, teruslah bergerak!”



Foto: Darto Danusubroto, umur 80 tahun, penasihat presiden 



Sedangkan  yangs tokoh satunya lagi adalah Bu
Mooryati Soedibyo, umur 88 tahun. Beliau pendiri Perusahaan Mustika Ratu. Bu Moor fisiknya terlihat jauh lebih muda dari usia aslinya. Beliau  menuturkan “yang berbahaya itu adalah perasaan kesepian dan tidak berguna. Ketika kita merasa masyarakat tidak membutuhkan kita, lingkungan tidak membutuhkan kita. Itu karena apa? Karena kita diam. Diam itu berbahaya. Kenapa? Karena kita tidak berbuat apa-apa, saat itu fisik tidak bergerak, otak juga tidak bergerak. Sehingga yang terjadi adalah kemunduran demi kemunduran” Itulah statement Bu Moor yang membekas dalam benak saya.

Kalau kita melihat sepak terpang Bu moor, beliau ini luar biasa
. Beliau tercatat rekor MURI sebagai orang paling tua yang berhasil meraih gelar doktor di Indonesia. Beliau berhasil menamatkan pendidikan doktoralnya di Fakulatas Ekonomi Universitas Indonesia di usia 78 tahun, amazingnya lagi ketika beliau sedang berposes merampungkan pendidikan doktoralnya, bersamaan dengan itu beliau juga menjabat sebagai wakil ketua MPR. Keren euy,


Foto Bu Mooryati, usia 88 tahun, pendiri Mustika Ratu, penasehat HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) 

Btw Guys, Terkadang kita juga merasa capek dan bosan dengan kegiatan yang berjibun. Saran saya tetaplah semangat dan merasalah mampu menangani semuanya. Ada baiknya kita simak saran dari pakar psikologi Mbak Josephine Ratna Mp sych. Kata Mbak Ratna, “Adalah sesuatu yang berbahaya apabila kita menilai diri kita tidak berguna. Lebih berbahaya perasaan tidak mampu dari diri sendiri daripada orang lain. . Karena perasaan tidak mampu yang berasal dari diri sendiri inilah yang membuat semangat dan gairah hidup menurun. Kalau seseorang merasa dirinya ini tidak berguna, maka seseorang ini dalam psikologis berada pada titik drastisnya. Nah itulah masa psikologis yang kerap dialami oleh para lansia”


Saat itu Bang Andy juga bertanya tentang kepikunan atau istilah medisnya Dimensia. Sesuatu yang banyak ditakutkan orang apabila hal itu akan menimpa di usia tuanya. Bang Andy bertanya, apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi masa tua agar tidak pikun. Lalu pertanyaan Bang Andy ini di jawab oleh pakar psikologi Josephine Ratna Mp sych. Mbak Ratna bilang, “Sebenarnya sudah banyak penelitian yang dilakukan factor-faktor apa saja yang membuat seseorang itu pikun. Ada salah satu factor yang penting dan perlu kita perhatikan. Yaitu kita perlu melatih kemampuan mengingat kita. Atau kita bisa memikirkan cara-cara baru untuk senantiasa melatih kemampuan kita berpikir”
Saat Mbak Ratna bilang begitu, dalam hati saya menyahut. “wah kalau gitu  Al Qur’an adalah cara terbaik untuk melatih daya ingatan kita”

Btw tentang kekhawatiran masa tua, ini juga yang ditanyakan oleh Bang Andy.  Saat itu Bang Andy juga  bertanya apakah  anti aging, serum atau komestik  bisa mencegah ketuaan?

kemudian  DR.Dr.Siti Setiati Sp.PD-kger. Hosh-hosh-hosh capek nulis gelarnya  cuy. Beliau adalah pakar geriatric ,ilmu tentang penangan orang-orang lanjut usia. Beliau menjawab, “Selama ini belum ada pembuktian-pembuktian yang ilmiah tentang serum atau komestik yang dapat mencegah penuaan. Saran terbaik  saya, yang  Beliau berkata, “Agar kita sehat, awet muda dan gesit di usia tua maka bergaya hidup sehatlah, atau perbaikilah life style, kemudian teruslah bergerak baik dari segi fisik dan pemikiran. Beberapa hal yang bisa dilakukan, teruskanlah untuk melakukan hobi-hobi yang baik, karena hal itu akan membuat kita bergerak dan bahagia. Kita juga bisa membuat pikiran kita tetap bergerak dengan mempelajari  hal-hal yang  baru

Saya pikir kita bisa belajar dari orang tua yang tetap sehat, yang tetap aktif memberi kontribusi dan dibutuhkan sana-sini. Para lansia yang tubuhnya terlihat bugar dan masih aktif berkontribusi dan dibutuhkan sana-sini. Kuncinya adalah keep moving. Teruslah bergerak.

Masalahnya  yang perlu kita perhatikan sekarang, kalau di masa muda ini  malas-malasan,  tidak mau melatih otak kita untuk berpikir, atau sering kali merasa tidak berguna, Lah bagaimana dengan masa tua kita?  So guys, keep moving for our beter future!!